Kami

Ini merupakan website yang ditujukan untuk memberikan informasi mengenai Nias yang memiliki salam khas Yaahowu dengan objek wisata yang terkenal di dunia seperti surfing, pantai yang indah, rumah adat, batu-batu yang umurnya sangat tua.

Nias yang terletak di sebelah barat Indonesia berhadapan langsung dengan samudera Hindia.

Ononiha2008

email yaaahowufefu@yahoo.com

13 Tanggapan

  1. Luar bias bung Eben, selamat ya jadi H-5 sukses jadi anggota legislatif.

    Mardiyanto
    Batam

  2. Selama ini pemerintah pusat melalui Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nias, cukup banyak menyumbang bagi tumbuhnya mentalitas ketergantungan dimaksud. Pemerintah yang seharusnya membangun masyarakat sebagai bagian dari tanggungjawab governmental, dalam kenyataannya lebih berfungsi sebagai state yang notabene-nya tidak melihat masyarakat sebagai bagian utuh sebuah keluarga Indonesia. Ini yang menyebabkan kondisi riskan bagi masyarakat Nias kedepan.
    Ini pula yang mengakibatkan Nias menjadi tertinggal, dengan kondisi riil yang terukur seperti: angka kemiskinan di kabupaten Nias menurut data BPS 2007 mencapai 30,80 persen, sedangkan di Nias Selatan sebesar 34,84 persen, dengan komponen-komponen indeks pembangunan manusia (human development indeks), antara lain: Angka harapan hidup (AHH) di Nias 68,7 dan di Nias Selatan 67,8. Angka melek huruf (AMH) Nias 87,1 dan Nias Selatan 84,8. Rata-rata lama sekolah (RLS) Nias 8,2 dan Nias Selatan 8,2. Konsumsi riil perkapita Nias 681,6 dan Nias Selatan 676,4 (Sumut Dalam Angka, 2007).

    Untuk komponen IPM/HDI tersebut, di Nias dengan jumlah penduduk sebesar 442,019 diperoleh indeks pembangunan manusia sebanyak 66,1 sedangkan pada wilayah Nias Selatan dengan komposisi penduduk sebesar 271,026 diperoleh indeks pembangunan manusia sebanyak 63,9 (Sumut Dalam Angka, 2007). Data ini menunjukan bahwa capaian pemberdayaan manusia cenderung statis dan tidak
    bergerak kearah yang lebih baik, meskipun kita tahu bahwa di Nias ada proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang menghabiskan dana trilyunan rupiah. Karena pendekatan yang dilakukan berupa konsep “pemberian bantuan” oleh pemerintah, maka tidak jarang terjadi bahwa bantuan tersebut salah sasaran, tidak efektif dan efisien dan tentunya tanpa melalui perencanaan yang aspiratif dan pelibatan
    partisipatif dari masyarakat.
    Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa degradasi moral dan kehidupan sosial kemasyarakatan yang buruk mulai nampak dari perilaku dan tindakan-tindakan asosial lainnya yang meresahkan masyarakat. Berbagai perilaku amoral yang sebelumnya jarang ditemukan dalam realitas masyarakat, kini mulai muncul pada domain-domain kehidupan masyarakat secara transparan.

    Lembaga pemerintah daerah dan kalangan stakeholders lainnya seolah-oleh kehilangan fungsi protektifnya. Pemerintah yang tidak sensitif terhadap permasalahan konkrit dalam masyarakat, juga secara langsung telah menyumbang bagi tumbuh suburnya persoalan amoral dimaksud.

    Selain itu, perlu ditegaskan disini bahwa pemulihan Nias belum selesai. Dengan berakhirnya tugas BRR di Nias tahun 2009 tidak berarti berakhirnya rehabilitasi dan rekonstruksi di Nias, karena kondisi keterpurukan dan ketertinggalannya yang selama ini dihadapi masyarakat, mestinya menjadi agenda
    berkelanjutan guna mengeluarkan masyarakat dari kondisi kemapanan dalam keterpurukannya. Juga perlu dilakukannya sebuah evaluasi bagi kepentingan keberlanjutan Nias, terhadap semua kerja-kerja BRR maupun NGO’s yang selama ini melakukan kegiatan penanganan masyarakan korban gempa dan tsunami. Pertanyaan strategis yang patut diajukan adalah apakah Pemda Nias dan Nias Selatan sudah
    siap untuk melanjutkan kerja-kerja pemberdayaan dan pembangunan masyarakat pasca keluarnya BRR? Ini menjadi sebuah pertanyaan yang sangat penting, sebab kecenderungan mentalitas ketergantungan tidak hanya terjadi pada level masyarakat, namun terjadi juga pada level birokrasi pemerintahan daerah.

    Ditengah pergulatan kontekstual tersebut, kita melihat sisi lain konteks masyarakat yang tengah bergulat dengan penataan kondisi sosial, ekonomi dalam berbagai bentuk kearifan mereka. Kondisi ini sebetulnya mesti menjadi perhatian dari berbagai pihak untuk mendukung kebangkitan masyarakat Nias dari keterpurukan yang mereka deritai selama ini.

    Sehubungan dengan kondisi-kondisi riil sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, dalam rangka memperingati 3 tahun bencana gempa dan trusnami di Nias, dengan ini kami, menyerukan beberapa hal sebagai berikut :

    1. Kepada seluruh komponen masyarakat Nias untuk bangkit dan memberdayakan diri supaya mampu meningkatkan kualitas kehidupannya dengan kekuatan dan kemandirian diri sendiri.
    2. Membangun kesadaran dan tanggungjawab untuk masa depan generasi Nias berikutnya dengan menjaga keseimbangan atau kelestarian lingkungan alam ciptaan-Nya dimana kita diperkenankan untuk hidup.
    3. Membangun kecintaan dan kesadaran melestarikan budaya dan kearifan Nias yang menjadi jatidiri, semangat dan ‘roh’ pembangunan kehidupan Nias secara keseluruhan.
    4. Membantu dengan tulus masyarakat Nias dengan program yang bukan membelenggu kemandirian, tetapi yang justru membangkitkan kemampuan dan kepercayaan diri dalam mengelola potensi sumberdaya yang ada dan mengupayakannya menjadi sumber “mata air” kehidupan Nias.
    5. Perhatian utama diberikan kepada masyarakat miskin dan perempuan (dewasa dan anak-anak) Nias yang cenderung meningkat dengan pendekatan dan program rehabilitasi-rekonstruksi yang pro-poor dan responsif gender, serta tetap waspada terhadap upaya dan proses ’memiskinkan’ masyarakat Nias secara fisik dan nilai.

    Atas nama kemanusiaan, kedaulatan rakyat, kebersamaan dan kasih, mari bangun kegotongroyongan dan kerjasama untuk mendorong Nias meraih kehidupan yang lebih baik.

  3. kata2 ini dicopy-paste dari mana pak? Ini mah nyontek. Ini kan kalimat briliant dari sbh lembaga nias yg sdh pernah dinyatakan. Kasìan banget, kalo cuma bisa nyontek doang.

  4. pak Piter kalau tak salah ini statement ibu esther Telaumbanua yang mau diwujudkannya kalau jadi anggota DPR RI.

    hebat juga program “manis”nya ya.

  5. somasi alio ofeta ba naha sibaga
    darua lohadoi sidarua
    datolu ira
    darua zui samosa ba datolu zui
    darua na samosa zidarua.
    bungkus ahori ba alio ofeta

  6. Esther Telaumbanua yang kawin sama orang ambon itu. orang angkuh dan sombong itu, omong kosong dia itu. lihat aja yayasan dia jadi corong minta dana kemana-mana tapi bukan utk diberikan ke Nias semuanya.

  7. Hati-hati kalau bicara Pak Mansur, jelek-jeleknya Esther itu Caleg No.1 Dari SUMUT II untuk DPR-RI termasuk kampung saya di SIBOLGA. Kalau memang orang Nias tidak mau memilih dia, kami Warga PDP yang ada di Kota Madya Sibolga dan Tapanuli Tengah siap memenangkan Ibu Esther.

    Ibu Esther Yth,
    Kalau Ibu Sosialisasi ke daerah, jangan lupa singgah di Sibolga, Kirimlah Spanduk atau Baliho Ibu biar kami pasang. Untuk Sibolga cukup 10 Buah Baliho saja, nanti di Pelabuhan Sibolga kami Pasang, satu lagi di jalan mau ke Tarutung dan Jalan mau ke Padang Sidempuan, dan Jalan mau ke Barus.

    Datanglah ke Sibolga bulan Desember 2008 nanti ikut acara Natal Oikumene sepantai Barat Sumatera Utara. Bila Perlu Ibu isi acara sekalian sosialisasilah.

    Masalah dana yg ditanyakan kepada Ibu cuekin saja, kalau memang Ibu blm menyelewengkannya biarkan sajalah, nanti juga bosan orangnya. Mungkin yang ungkit-ungkit itu saingan Ibu di Sumut II dan bisa ditebaklah dari Partai mana yang sangat membenci PDP. Hehehehe.

    Terima kasih.

    Horas ….!!! Hidup Esther Telaumbanua …!!! Hidup PDP …!!!

  8. yang baru dan sempalan belum teruji.
    yang lama dan besar sangat meyakinkan !

    Hidup PDIP
    Hidup PDS
    Hidup PD
    dengan caleg-calegnya.

    Partainya sudah teruji kalau yang baru belum tentu lolos PT.

  9. Sebaiknya Esther bercermin pada diri sendiri, kenapa masyarakat Nias tidak bersimpatik kepadanya pasca ketahuan kalau bantuan yang disalurkan melalui yayasannya banyak kebocoran. Terlepas dari salah pengelolaan ataupun salah sasaran yang jelas Ibu Esther tetap bertanggung jawab. Jangan sampai dugaan masyarakat bahwa biaya kampanye Esther dari dana Bantuan kemanusiaan Nias.

    Ada baiknya Esther terbuka ke Public agar laporan keuangan bantuan tersebut dapat dilihat oleh semua orang, jangan terkesan ditutupi yang akhirnya menaruh kecurigaan semua orang. Mungkin bagi Esther masalah ini sepele tetapi bagi korban penipuan yayasan tersebut merupakan masalah serius dan menurut hemat saya tidak menutup kemungkinan menyeret sejumlah nama yang terlibat pada penyaluran dana-dana tersebut seperti Ibu Deputi BI, Pimpinan Suara Pembaruan, Dll.

    Demikian komentar saya, semoga Esther membacanya sebagai bahan pertimbangan.

    Yaahowu

  10. ramai kali bah…

  11. lama2 bosan mendengar isinya cuma menghujat seorang perempuan. Apa kalian tak punya pekerjaan lain. Tabah ya bu Esther. Anda tak perlu terpancing sama laki2 penggosip itu. Mrk itu cuma pecundang.

  12. yang penting sampai kapanpun tetap ingat masyarakat budi baik dan niat jelek seseorang. iya nggak

  13. ha ha ha biarin saja mrk mau ngomong apa. Yg sirik itu dpt dibaca siapa orgnya.. Biar aja bu Esther, mrk itu ga ada apa-apanya dibandingkan bu Esther. Mrk cuma ngomong kosong aja krn takut kalah dlm persaingan. Kasian mrk itu. Mereka bukan laki2 krn sikap mereka tdk jantan. ! Maju terus ya bu Esther ! Yg milih bu Esther org Nias, manusia Nias yg benar dan nyata dan kabupaten lain dapil2nya bu Esther, BUKAN MANUSIA PECUNDANG DI BLOG MAYA INI! Maju terus Wanita Nias di kancah Nasional dan Internasional!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: