BRR Nias Dan Pemda Nias Tidak Bertanggung Jawab

Relokasi Pengungsi oleh BRR Nias Berakhir Ricuh

Relokasi pengungsi dari komplek Remeling dan Rumah Sakit Lama ke rumah yang dibangun BRR di Desa Dahana, Gunungsitoli berakhir ricuh.

Kericuhan dipicu karena pihak BRR terkesan memaksakan kehendak untuk memindahkan para pengungsi ke rumah baru tersebut sementara ganti rugi lahan pertapakan belum dibayar kepada masyarakat.

Keterangan yang didapatkan Waspada di lokasi tadi malam menyebutkan, sebelumnya Manajer Perumahan BRR Nias, Bambang memberitahukan kepada para pengungsi agar datang ke lokasi perumahan pada hari itu untuk membersihkan dan sekaligus penunjukkan kepemilikan rumah masing-masing yang telah selesai dibangun sejak 2006 lalu.

Mendapat informasi rumah bantuan BRR akan ditempati pengungsi, ahli waris pemilik lahan pertapakan, Ina Cori Gulo dan keluarganya datang ke lokasi untuk memprotes rencana itu. Mereka keberatan dan tidak mengizinkan rumah bantuan sebanyak 109 unit yang dibangun BRR ditempati para pengungsi karena sampai saat ini biaya ganti rugi tanah seluas 18.758 M2 tempat dibangunnya rumah tersebut belum dibayarkan BRR Nias.

Puluhan kepala keluarga pengungsi yang sudah datang sejak pagi sempat berdialog dengan ahli waris pemilik lahan. Mereka mengaku disuruh Bambang untuk membersihkan lahan perumahan dan sekaligus penunjukkan rumah yang akan diberikan kepada pengungsi oleh BRR Nias.

Kepada para pengungsi, Ina Cori Gulo menjelaskan, ganti rugi tanah pertapakan pembangunan rumah bantuan tersebut belum dibayar BRR kepada keluarganya sehingga tidak mengizinkan untuk ditempati.

Ketika Bambang bersama sejumlah pejabat BRR Nias ke lokasi yang sudah ditunggu-tunggu para pengungsi langsung disambut protes ahli waris dan keluarga pemilik tanah. Mereka tidak mengizinkan rumah bantuan itu ditempati para pengungsi sebelum ganti rugi tanah diselesaikan.

Namun Bambang menyatakan, tidak ada permasalahan ganti rugi tanah antara ahli waris dengan BRR Nias. Bahkan Bambang dengan nada menantang memerintahkan para pengungsi untuk membersihkan lokasi perumahan sembari menyatakan apapun yang terjadi dia bertanggungjawab.

Melihat itu, keluarga Ina Cori Gulo terus memprotes sambil menunjukkan salinan surat dari Kepala BRR Nias, Yupiter Gulo kepada Bupati Nias untuk meminta penyelesaian ganti rugi tanah dibayarkan melalui APBD 2009 Kabupaten Nias.

Namun dari surat jawaban Bupati Nias kepada BRR NAD dan Nias menyatakan tidak memungkinkan untuk dianggarkan melalui APBD Kab. Nias dan menyarankan pembebasan lahan dimaksud ditangani BRR dan menyelesaikannya sebelum mengakhiri masa tugas di Nias.

Vince Lase, salah seorang pejabat BRR Nias yang datang ke lokasi menjawab Waspada mengatakan, pihaknya sedang berupaya menyelesaikan permasalahan ganti rugi tanah tersebut dan diharapkan dalam waktu dekat akan dilakukan pertemuan dengan Pemkab Nias bersama ahli waris.

Sementara itu sejumlah masyarakat menyesalkan peristiwa tersebut yang menilai pihak BRR melakukan upaya adu domba antara ahli waris pemilik tanah dengan para pengungsi. Mereka mengimbau pihak BRR tidak memindahkan para pengungsi ke rumah bantuan dimaksud sebelum penyelesaian ganti rugi tanah dituntaskan agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.
————
Komentar Pembaca dari Niasisland.com

Ya’ahowu…!

Klo menurut saya, saya setuju apa tindakan dari ahli waris bahkan sampai tuntas pembayaran ganti ruginya dulu baru di ijinkan untuk memasuki lahan tersebut.

Dan untuk lebih baiknya lagi klo minta dukungan kepada para pengungsi untuk mendesak pihak BRR menyelesaikannya.

Untuk para pengungsi menurut saya MARI MENDUKUNG ahli waris supaya dikemudian hari tidak ada permasalahan lagi dan sekaligus menjadi saksi dalam penyelesaian tersebut.
jangan pihak BRR mengadu domba kita….mereka telah menerima uang banyak namun meninggalkan penderitaan diantara kita semua yang bersaudara (memecah belah kita)..

Dan klo tidak ada solusi penyelesaian dari BRR menurut saya pihak ahli waris ambil jalur hukum saja, LAPORKAN kepada polres nias klo ada tindakan penipuan di dalamnya.

Demikian saran dari saya smoga jangan ada perpecahan / keributan diantara kita semua….dan kiranya saran ini dapat bermanfaat.

Terimakasih…

Amati Dachi,SH
Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Nias Indonesia (IMANI)
————————
kasus yang sama juga terjadi di desa lasara sowu kecamatan gunungsitoli utara. Kepala desa lasara sowu faozatulo ziliwu, itrinya dan keluarganya telah mendapat rumah bantuan brr. Padahal tanah yang dibangun BRR itu adalah milik orangtua otodo ziliwu (almarhum ama gayasi). Kepala desa lasara sowu tidak punya tanah disitu, tetapi karena otodo dkk telah lama merantau ke pulau banyak sejak tahun 1994 maka tanah kosong itu diakui saja kades lasara sowu sebagai miliknya dan BRR juga tidak menanyakan kepada tetangga soal tanah itu. Kasus ini bakal masuk ke hukum karena otodo dkk telah meminta pengacara menanganinya. Bahkan pengacara otodo dkk telah mensomasi BRR dan kades tetapi tidak digubris. Ada baiknya brr dan kades berpiklr jerni. Kasus yang lain juga terdapat didesa-desa lainnya. BRR ku sayang BRR ku malang, tadinya membantu masyarakat kok menyengsarakan rakyat. Tuhan ngutuk kau oknum BRR.
———-
Yaahowu

saya himbau kepada kita sebagai warga masyarakat nias yang menerima bantuan rumah dari BRR, agar sebelum berakhirnya masa kontrakkan BRR di Nias sebaiknya segala sesuatu sebaiknya harus sudah diselesaaikan. jangan nanti setelah BRR berakhir baru berbagai masalah akan di munculkan atau dicungkil.

Thank’s
———
Wah ini soal Korupsi lagi. Kalau kita jalankan hukum seperti malaysia dan singapura, kita pasti maju. Hukum di indonesia itu sudah tak stabil lagi. Masalah itu, kita harus dukung yang benar dan yang salah di pertanyakan.
———–
kaaciiannn dan sungguh tragis ya…………………
setiap sektor dalam sendi kehidupan warga indonesia pd umumnya sll tdk lepas dr unsur2 KKN oleh oknum2 yg bermental bejaattt……………..!!!!
tak terkecuali dalam misi kemanusiaan membantu orang2 yg terkena musibah gempa di nias.mereka tdk perduli dgn kesengsaraan dan penderitaan orang lain yg penting mereka bs mempergunakan kesempatan mengeruk keuntungan sebanyak2nya.
cm ingat……….!!!
Allah sll memperhatikan setiap gerak-gerik km.
siapa menabur,dia pasti menuai………….
——————-
buat saudara2ku senasib sepenanggungan jgn mau di adu domba ya…………

Sejujurnya kasus ini sangat rumit, sebagai mantan staf BRR satker perumahan saya berharap pak bambang jangan menganggarkan kekuatannya untuk menekan ahli waris pemilik tanah (ina cori gulo). Sudah cukuplah BRR membuat ahli waris menanggung denda di BPDSU. Pak bambang jangan mengadu kepentingan antara ahli waris dengan pengungsi yang memang selama ini diterlantakan. Kepada semua saudara-saudara di Nias, mari memberikan dukungan kepada saudara kita ina cori gulo karena perilaku pejabat2 BRR terdahululah yang membuat kasus ini sedemikian rumit. Jadi saran saya kepada pak bambang dan mereka2 yang masih bertahan di BRR supaya mengusahakan pembayaran tanah tersebut. Biarlah anak2 ahli waris tidak terlantar hanya karena BRR ingkar janji dan tidak membayar kewajibannya.

harapan kita, masalah ini dapat terselesaikan oleh BRR jangan kiranya meninggalkan kepedihan dihati masyarakat terlebih kepada ahli waris di akhir masa kerja mereka.
————
Bambang harus dapat menyelesaikan dengan ahli waris(ina cory gulo) lokasi tersebut, jangan dilakukan sistim paksa, tapi anda(bambang) harus mencari solusi yg terbaik(sama-sama enak).
——–
Membaca berita ini rasanya saya mau muntah, betapa banyak permasalahan yang sengaja di buat, untuk mencari keuntungan sendiri, hal yang tdk mungkin bangunan dibangun terlebih dahulu sebelum ada penyelesaian lahan, Bukankah Ibu INA CORI juga seorang kontraktor ? apakah dalam pekerjaan Ibu pernah melakukan hal yang demikian dimana masalah belum selesai, Ibu sudah melakukan pekerjaan ? Jangan2 ini hanya sandiwara untuk mendapatkan ganti rugi dari PEMDA sesuai yang Ibu katakan bahwa ada copy surat Pak Yupiter Gulo kpd Bupati Nias, coba dihitung sejak tahun Berapa Pak Yupiter jadi Kepala Distrik BRR Nias, dan kapan memulai pembangunan Rumah tersebut ? Harapan saya marilah kita dengan hati yang tenang merenungkan sebenarnya apa yang kita cari ?

Senantiasa Tuhan selalu menyertai dan memberkati kita, Amin.
———–
Yaahowu fefu,

Saya kecewa dengan kebijakan BRR dalam beberapa hal tentang pembangunan pasca gempa di Nias seperti kenyataan tersebut di atas, dan saya juga sedih jika putra-putri Nias seperti Yupiter Gulo yang bergabung dalam BRR jika tidak sepenuhnya dan tidak tulus memperjuangkan pembangunan Nias melalui BRR pasca gempa dan terlebih-lebih jika hanya mementingkan diri sendiri atau golongan tertentu saja.

Kepada bapak Bambang, saya juga menyarankan kepada Anda agar persoalan berupa ganti rugi wahliwaris tanah terlebih dahulu diselesaikan dengan baik, artinya benar-benar dibayar dengan uang dan bikan dengan kekuasaan untuk menakuti warga sebagai bagian dari korban bencana dan yang memiliki hak atas lahan sebagai warisan kedua orangtua mereka.

Yth saudara saya orang Nias, saya sangat setuju bahwa BRR harus bertanggungjawab sepenuhnya terhadap seluruh yang harus dibayarkannya, jika benar BRR profesional dan beretika baik maka tentu sebelum pembangunan dimulai telah mengetahui apa saja yang harus diselesaikannya sebelum meninggalkan Pulau Nias daerah kita tercinta atau sebelum BRR selesai masa tugasnya. Saya sendiri juga tidak setuju jika APBD menjadi korban dan/atau yang membayar kewajiban BRR tersebut. Bila perlu, LMS lokal, tokoh – DPRD – DPR RI orang Nias dan intelektuan masyarakat Nias termasuk di perantauan perlu menanggapi persoalan ini dengan baik. Saya kuatir, jangan-jangan kasus serupa terjadi di desa lain dalam wilayah Nias tercinta.

Pagi ini di TRANS 7 saya melihat berita tentang salah satu Gedung SEKOLAH DASAR yang dibangun BRR di Aceh yang sampai sekarang belum ditempatkan / dimanfaatkan sehingga murid sekolah tersebut bergabung di sekolah lain karena gebung sekolah mereka yang baru tidak bisa digunakan akibat asal membangun – proyek gagal. Harapan saya, semoga proyek seperti di Aceh tersebut tidak di wilayah Aceh lainnya dan juga tidak terjadi di Nias.

Yth Bapak Bambang, diharapkan dapat menyelesaikan keluhan masyarakat tersebut di atas dengan mengutamakan kepentingan para wahliwaris dengan baik dan benar. Sehingga dengan demikian maka kepergian BRR tidak menimbulkan luka batin bagi masyarakat Nias kelak.

Salam sukses amen,

Michael Y. Zalukhu
——————
Semua bermasalah. Antara ina cory dengan pemilik tanah pertama juga ada masalah, makanya jalan masuk ke perumahan itu dipalang oleh pemilik tanah sebelumnya (ina cory membeli tanah kepada penduduk Dahana). Selanjutnya antara ina cory dengan brr juga bermasalah. Itu yang saya tahu, karena saya orang Dahana. Tapi yang paling salahkan adalah BRR , apalagi sikap Bambang itu, bukan menyelesaikan masalah tapi menambah masalah (kalau dia ada di depanku saat itu sudah kuludahi mukanya. Bambang………… bayangkan kalau hal ini terjadi di keluargamu, mudah2an terjadi ini di keluargamu.
—————-
Kepada Yth,
Manager Perumahan
BRR Nias, Bambang
“Menyelesaikan masalah dengan arif dan hati mulia adalah awal dari solusi penyelesaiannya. Tak juga harus memaksakan kehendak memindahkan pengungsi ke rumah baru bangunan BRR sementara permasalahan ( ganti rugi tapak tanah) masih belum selesai. Apalagi kalau mengandalkan Egoisme dan dominasi Emosional sudah semakin memperumit permasalahan. Akhirnya nanti masalah jadi bertumpuk dan bertengger serta berlapis, yang membuat kita ambigu untuk membuka gembok solusinya lagi. Jadi, biar selesai dulu ganti rugi tapak tanah tersebut bagi ahli warisnya baru dapat disentuh dan ditempati calon penghuninya”.

Kepada Saudara/I_Ku, Ahli Waris,
Sabar saja menunggu realisasi ganti rugi tapak tanah tersebut. Saya harap tetap bertahan pada prinsipmu. Sebagai ahli waris anda berhak meminta ganti rugi. Dan ganti rugi itu sudah harus dibayarkan sekarang seusai pembangunan perumahan tersebut, dan sebelum dihuni. Tak ada kata N A N T I.

By : Ketua Umum Gerakan Muda Rakyat Kepulauan Nias ( GEMAREPNIS ), Bowonama Telaumbanua, S.Sos.
————
Ya’ahowu…
Da tafatunöisi hadia zitobali noro gera-era ndra talifusö fefu.

Pemerintah bertugas untuk masyarakat, karna masyarakatlah yang membentuk pemerintah dan karena TANÕNIHA ada masyarakat dan pemerintah. (Khusus Edisi TANÕNIHA)
Jadi, pemerintah harus perhatian dan mampu untuk mengambil kebijakkan yang lurus baik dan benar demi kepentingan masyarakatnya untuk mencapai tujuan pembangunan.

BRR yang bertugas di pulau NIAS dalam beberapa waktu lamanya, kami sangat berterimakasih atas ketersediaannya waktu untuk melakukan sesuatu buat TANÕNIHA.
Namun, dalam bertugas tentu ada banyak permasalahan yang dilalui, baik yang dari pemerintah, dari kelompok lain dan tidak terkecuali dari masyarakat sendiri.
Nah, itu adalah bagian dalam bertugas.
Akan tetapi , BRR perlu juga mengetahui dan memahami bahwa apapun namanya pekerjaan tentu ada suatu bentuk PERTANGGUNGJAWABAN yang perlu diselesaikan baik yang bersifat formal maupun nonformal, baik terhadap instansi pemerintah maupun kepada masyarakat.

Jadi, setiap permasalahan di dalam masyarakat pada khususnya, tentu perlu tatanan positive untuk menyikapi dan menyelesaikannya. Dibutuhkan kemampuan profesionalisme yang tinggi.

Kepada kita masyarakat, dalam kondisi NIAS sedang BERBENAH, tentu sangat dibutuhhkan perhatian kita, yang berupa sikap dan tindakan yang positive pula, yangmana tidak kerlalu berlebihan dalam bertindak untuk mendapatkan berupa hak2 yang terabaikan.

Ada banyak cara yang normatif yang dapat kita lakukan untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada. Dengan kata kunci HARMONISASI.

Ma fasaule-fasaule gera-era moroi yawa, na so zilöfaudu, ba bologö dödö.
Atö tödö ba era-era si sökhi zitola ma me’e aoha ba wangasiwai noro dödö.

Saohagölö fefu.

Vectort

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: