Pernikahan dan Pariwisata Nias

Dua pembahasan topik yang unik. Pertama, masalah hukum pernikahan. Kedua, masalah klasik tentang pengembangan kepariwisataan Nias yang terpuruk. Keduanya sempat menyita porsi pembahasan pada acara Penyampaian Pokok-Pokok Pikiran Terhadap Blueprint BRR Nias dan Pemekaran Kabupaten Nias Utara, Nias Barat dan Kota Gunungsitoli di Hotel Sahid Jakarta, belum lama ini.

Dalam paparannya mengenai lima pilar yang akan menjadi kerangka blueprint pembangunan Nias 30 tahun ke depan, Bupati Nias Binahati B. Baeha memberikan penjelasan mendalam mengenai pilar sosial budaya, khususnya adat pernikahan. ”Yang baik dari budaya Nias harus dilestarikan. Sedangkan yang tidak baik harus direformasi, misalnya adat pernikahan,” ujarnya. Menurut dia, banyak hal dalam adat pernikahan tidak dapat diterapkan pada zaman sekarang. Dia mengatakan, hukum pernikahan itu berbau animisme sebab ditetapkan sebelum masyarakat Nias mengenal agama. ”Masyarakat Nias sudah mengenal agama. Dan harus diakui banyak hal dalam hukum pernikahan itu bertentangan dengan agama yang dianut saat ini,” jelasnya.

Bupati Nias memprihatinkan hukum pernikahan yang masih kental diberlakukan saat ini. Dia mengatakan, banyak orang Nias akhirnya kerjanya hanya membayar hutung pernikahan. ”Bagaimana nanti dengan masa depan anak-anaknya kalau akhirnya terpaku pada hal itu saja (pembayaran hutang, red),” tukasnya.

Sebagai langkah awal untuk mengatasi masalah itu, Bupati Nias mengungkapkan bahwa dikampungnya sudah meminta agar pejabat terkait di sana membantu mereka yang mengalami kesulitan untuk menikah karena tersandung hukum pernikahan yang tidak bisa dipenuhi. ”Biar saja mereka menikah di catatan sipil. Urusan adat belakangan dibicarakan,” ujarnya mencontohkan.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Yasonna Laoly. Dia mengatakan, banyak orang di Nias bekerja mati-matian untuk mengumpulkan uang, bukan untuk investasi tetapi untuk membiayai pernikahan. ”Jadi uangnya ’mati’,” katanya. Kemudian, tambah dia, anak-anaknya mati-matian bekerja mengumpulkan uang banyak hanya untuk membayar utang pernikahan orang tuanya. ”Jadi, lagi-lagi uangnya ’mati’,” tandasnya. Karena itu, menurut Yasonna, perlu upaya perbaikan tata berpikir mengenai hukum pernikahan.

Kepariwisataan

Mengenai rencana pengembangan potensi kepariwisataan dalam kaitan dengan penyusunan blueprint pembangunan Nias 30 tahun yang akan datang, Yasonna Laoly dan Daniel Tanjung menganjurkan adanya sinergi dengan kabupaten Nias Selatan. ”Pemda harus memikirkan alternatif tujuan wisata selain surfing. Misalnya membuat semacam kawasan berburu yang sangat diminati turis asing. Jadi tidak tergantung pada surfing season yang hanya sekali setahun setelah itu tidak ada kegiatan lain,” jelasnya. Intinya, kata dia, harus tersedia banyak alternatif wisata ketika para pelancong merencanakan akan ke Nias.

Sementara Daniel Tanjung mengajak ada upaya memikirkan secara serius hal-hal sederhana tentang kepariwisataan di Nias.”Ada dua pertanyaan ketika seseorang akan berkunjung ke Nias. Pertama, apa makanan khas Nias dan kedua, bila saya mau pulang dari Nias, oleh-oleh ciri khas Nias apa yang bisa saya bawa,” jelasnya. Menurut dia, pertanyaan sederhana ini sampai sekarang belum bisa dijawab tuntas padahal itu terkait erat dengan kepariwisataan.

Untuk cenderamata yang mencirikan keunikan Nias yang dapat dibawa pulang para turis sebagai tanda pernah melancong di Nias, Daniel mengusulkan dibuatkan miniatur dari ciri-ciri atau keunikan Nias. ”Misalnya, miniatur perisai Nias yang benar-benar unik dan berbeda dengan perisai dari daerah-daerah lain di Indonesia,” usulnya.

Sumber : dari situs tetangga

Satu Tanggapan

  1. I like……

    adat di Nias kita bukan dalam arti di hapus tapi saya mau agar Nias kita adatnya agak di kurangi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: