Menunggu Kebangkitan Pariwisata Pulau Nias

Pantai Sorake, yang terletak di Teluk Lagundri Pulau Nias merupakan pulau yang terkena gempa sebesar 8.7 SR pada tanggal 28 Maret 2005, beberapa peselancar lokal sedang berenang menuju lautan, melihat kebelakang pada teluk yang seakan terpencil dan bangunan-bangunannya yang hampir roboh.

Para peselancar tersebut pernah menjadi saksi bahwa Teluk Lagundri pernah sekali tumbuh subur menjadi tempat tujuan para peselancar internasional.

“Kami tidak mempunyai sebuah kompetisi selancar tahun lalu karena gempa dan orang masih takut untuk datang karena kekhawatiran akan gempa lainnya yang mungkin akan datang”, keluh Sutono seorang peselancar lokal berusia 19 tahun, dilansir dari http://www.afp.com.

Tetapi mereka tetap terus berharap agar “waxheads” (julukan bagi para peselancar Australia) dan para turis akan kembali.

“Kami semua menunggu dengan harap-harap cemas untuk melihat apakah para peselancar akan datang pada musim selancar bulan April ini, tetapi saya tetap berharap mereka mau datang”, kata Bagera Eran, yang juga seorang peselancar lokal berusia 30 tahun.

Kadang-kadang pekerja sukarela asing beristirahat pada Pulau Nias dan mereka juga berselancar disini.

Menurut Bagera “Opini umum yang ada mengatakan bahwa ombak (red-untuk selancar) lebih baik,” kata Bagera.Sebelumnya telah dilaporkan bahwa terjadi perubahan tingkat ketinggian karena gempa pada topografi sekitar Pulau Nias.

Pantai Sorake pada Teluk Lagundri pada tahun 2003 masuk dalam daftar 10 besar pantai pada Samudera Hindia, yang dibuat oleh Tony Wheeler, pendiri perusahaan pemandu wisata Lonely Planet, menurutnya air yang seperti batu pirus (karena berwarna biru dan hijau) pada Teluk Lagundri sering menjadi tuan rumah pertandingan berselancar internasional.

Jalan sepanjang 130 km telah terbagi dua karena gempa, jalan kecil yang berliku-liku menurun dari Gunung Sitoli menuju Teluk Dalam, kota utama pada Selatan pulau, jalan ini menjadi salah satu proyek rekonstruksi utama yang harus diselesaikan.

Disaat para korban yang selamat mengeluhkan bahwa hanya sedikit yang telah rumah yang dibangun, 13.000 rumah baru dibutuhkan tetapi baru 1.500 yang telah diselesaikan, optimisme industri pariwisata telah bangkit dan biaya bantuan jutaan dolar mulai mengalir.

“Kami mempunyai harapan tinggi bahwa dengan jalan dan infrastruktur yang lebih baik, makin banyak turis yang akan datang”, kata Meifati Fanaetu seorang Manejer Umum dari Sorake Beach Resort Hotel yang memiliki 36 bungalow.

“Kami harap dengan program rekonstruksi, area ini akan mempunyai infrastruktur yang memadai, sesuatu yang tidak bisa dipenuhi oleh pemerintah lokal”, tambahnya.

Dekat dengan desa tradisional Bawomataluo, dengan jalan yang berbatu, berbaris rumah kayu, rumah khas Nias yang unik, seunik pantainya.

Satu dekade yang lalu sekitar 25 pendatang tiap harinya mampir ketempat ini. “Sekarang, kita beruntung jika ada yang datang dalam sebulan”, kata Kharasi Wau seorang petani yang mendapat pemasukan dari tips yang diberikan turis karena melakukan ritual lompat batu yang terkenal itu.

Pada pertengahan 1990-an, turis asing yang datang ke Nias tiap tahunnya adalah sekitar 11.000 ? 12.000 turis. Jumlah turis asing tersebut berubah menjadi 1.000 pada tahun 1999 karena krisis moneter, tapi pada tahun 2004 karena peningkatan layanan transportasi udara dan laut jumlah tersebut meningkat menjadi 7.000.

Para turis biasanya bersama-sama melihat tradisi kuno Nias yang kepercayaannya berdasarkan animistik (percaya bahwa alam memiliki jiwa) yang terlihat dari monumen-monumen batu besar dan tarian adat pada Pulau Nias.

Solistis Dachi, Kepala kantor Budaya dan Pariwisata Nias Selatan, mengatakan kegiatan kepariwisataan adalah harapan utama orang untuk mendapatkan pemasukan yang layak, pada pulau yang berpopulasi 710.000 jiwa dimana selain dari kegiatan kepariwisataan masyarakat Pulau Nias juga mendapatkan pemasukan dari pertanian dan perikanan. Dia menambahkan bahwa, “satu efek positif dari gempa bumi adalah, bahwa infrastruktur yang baik, mungkin akan membangkitkan kegiatan kepariwisataan”.

Sumber : Situs Tetangga

Satu Tanggapan

  1. Tulisan ini kembali membuka pikiran saya akan pariwisata kita di Nias. Kalau cuma menunggu kebangkitan pariwisata kita, mungkin ga akan efektif. Kita harus belajar dari pengalaman sebelumnya, beberapa tahun yang lalu Sorake dan Lagundri adalah surga bagi para wisatawan manca negara, tapi surga itu hanyalah surga semu bagi mereka. Hingga mereka lari dari surga yang kita berikan bagi mereka, karena mereka tidak merasakan ke”surga”an itu. Bagaimana kita merubah sistem pariwisata kita agar para wisatawan kembali mengunjungi Nias, bagaimana kita menjaga para wisatawan yang datang agar mereka mendapat kenangan yang indah selama di Nias, dan bagaimana sikap (baca: sifat) kita dalam menyambut mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: